KH. Masruchin Aba Hidayat

Dalam sambutannya, KH. Masruchin Aba Hidayat memaparkan deretan capaian luar biasa yang berhasil diraih berkat kolaborasi, doa restu, serta dukungan nyata dari masyarakat dan para alumni. Peningkatan Kuantitas Santri dan Peserta Didik Baru Antusiasme masyarakat untuk menitipkan putra-putrinya terus mengalami peningkatan yang patut disyukuri. Saat ini, tercatat ada sekitar 816 santri yang menuntut ilmu, dengan 516 di antaranya merupakan santri mukim.

 Peningkatan yang signifikan sangat terasa pada pendaftaran peserta didik baru di sekolah formal kita. Jenjang SMP sukses menerima hingga 105 siswa baru, sementara Madrasah Aliyah menerima 78 siswa. Ini menjadi indikator kuat bahwa integrasi antara kurikulum formal dan pendidikan karakter ala pesantren semakin dipercaya masyarakat luas. Perluasan Lahan dan Lahirnya Pesantren 2 Sejalan dengan bertambahnya jumlah siswa, fasilitas fisik pesantren juga terus dikembangkan guna memberikan kenyamanan belajar. Alhamdulillah, pesantren berhasil membebaskan lahan seluas setengah hektare di sisi barat. Selain itu, pesantren juga menerima amanah wakaf tanah seluas 5.600 meter persegi di daerah Dasri dari keluarga Alm. H. Mawardi (Prof. Dr. Dimyati), yang kini dipersiapkan dengan matang untuk menjadi kompleks Pesantren 2.

Kampus UIMSYA 4: Solusi Berkelanjutan untuk SDM Pendidikan Salah satu langkah strategis yang sangat menarik dalam sambutan beliau adalah pembangunan Kampus 4 Universitas Islam Mukhtar Syafaat (UIMSYA). Terobosan ini hadir untuk menjawab tantangan ketersediaan SDM pendidik di masa depan. Selama ini, banyak lulusan Aliyah yang harus boyong ke luar daerah untuk melanjutkan kuliah, sehingga yayasan seringkali kesulitan membangun kader guru internal yang memiliki ikatan emosional kuat dengan almamaternya.

Dengan dibukanya Kampus 4 UIMSYA langsung di dalam lingkungan pesantren, lulusan Aliyah kini dapat melanjutkan pendidikan tinggi (dengan jadwal kuliah akhir pekan) sekaligus tetap tinggal untuk mengabdi sebagai tenaga pengajar di lembaga pendidikan pondok. Visi Sinergi Tenaga Pendidik Masa Depan Melihat ke depan, yayasan menargetkan agar setidaknya 50% tenaga pengajar di lembaga formal dapat diisi oleh kader-kader alumni sendiri. Langkah ini diambil untuk menyelaraskan visi pondok pesantren dengan visi pendidikan formal di sekolah. Ikatan emosional dari para alumni dinilai mampu menghadirkan "ruh khidmah" yang melampaui sekadar tuntutan profesionalitas kerja. Tentu saja, peran dedikatif tenaga pendidik profesional dari luar alumni yang saat ini mengabdi dengan ikhlas tetap menjadi pilar tak terpisahkan dalam kemajuan siswa. Dukungan luar biasa dari ikatan alumni—yang hadir dari penjuru Sumatera, Bali, Sumbawa, hingga Jawa Tengah dalam forum Silaturahmi Nasional—membuktikan bahwa kemajuan Raudhatut Tholabah adalah wujud nyata dari gotong royong. Semoga momentum haul ini terus membawa keberkahan bagi para santri, dewan asatidz, serta seluruh keluarga besar yayasan.